Bertahun-tahun rindu di semayamkan dalam hati seorang bocah, menimbun kenangan dan ingatan di rongga jiwa yang gundah.

Kepada siapa maaf di sampaikan jika rupa pun sudah mulai terlupa, garis senyum yang tak dapat lagi di pandang oleh mata.

Raut wajah pemarah yang menakuti si bocah yang tak mau tidur siang, sosok tempramental namun sekaligus penyayang.

Jangkrik pun merindu dongenganmu yang begitu membius seisi malam, tembang lama dan juga sya’ir kutipan sampai sejarah mataram.

Kebersamaan kala melepas lelah di ladang ubi belakang rumah, adalah kisah indah dalam kesederhanaan bagi sang bocah.

Air matamu tak terbendung melenyapkan citra garang di wajahmu, saat terpaksa membelah celengan sang bocah demi rokok yang tak terbeli olehmu.

Kau bilang pada sang bocah suatu saat akan kau ganti celengan itu, nanti jikalau dapat kerja dan rejeki janjimu.

Bocah itu menurut saja ucapanmu dengan lugunya, tanpa tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.

Hingga sang bocah beranjak remaja dan berkumpul dengan seusianya, peristiwa 5 maret adalah awal kehancuran bagi segala cita-cita.

Harapan yang kau panjatkan di antara doa-doa di sepertiga malam, mencoreng wajahmu seketika saja tanpa salam.

Bocah itu benci kau pergi meninggalkan perjuangan yang menjadi beban, tapi bocah itu lebih membenci dirinya yang tak bisa menjadi yang kau impikan.

Bocah itu di benci, di kucilkan, di remehkan, di pergunjingkan, sedikit demi sedikit bangkit berkat pesan yang terakhir kali kau titipkan.

Kelak sang bocah akan menjadi seorang pria dewasa, serta akan menemukan sejatinya menjadi manungsa.

Ketika sang bocah akhirnya tumbuh dan belajar makna serta arti kehidupan, namun kenangan datang menyodorkan kerinduan.

Sang bocah telah dewasa menjadi dirinya sendiri, setelah menjalani hukuman batin dan alam semesta ini.

Lalu sang bocah bertanya dalam hati
Kapan kau kembali.

Batam, 2 April 2019

Tinggalkan Komentar