Dia Hanya (Sedang) Butuh Teman Bicara

Dari balik kisi-kisi jendela; mata ku menerawang di antara bulir hujan yang tengah berlomba jatuh ke bumi sore itu. Senja yang ku damba dengan langit jingga seperti biasanya, kali ini berhalangan hadir.

Aku suka hujan. sebagaimana aku menyukai senja. Mereka dapat membuat otak-ku berpesta-pora dengan kata-kata. Menikmati segelas harapan, menyulut kenangan dan meletakannya di bibir jendela; membiarkannya habis begitu saja.

Mataku masih menatap; bagai sebuah proyektor; ia membuat serangkaian memoar bermuasal dari kepalaku.

***

Ponsel yang sedari tadi ku pakai memutar musik berjeda; bersamaan dengan suara notifikasi pesan pribadi memecah lamunan. Sigap tanganku meraih di-iringi rasa penasaran; siapa gerangan mengirim pesan.

Wajah ku kegirangan. Mengetahui siapa pengirim pesan; ia adalah gadis yang ku kagumi diam-diam. “Hai, apa kabar?” Begitulah tertulis di dalam pesan. Dia yang bertanya kabar, jantung ku yang berdebar-debar.

***

Akhirnya, kisah saling berkirim pesan bermuara menjadi sebuah pertemuan. Setelah dia bercerita banyak tentang sang mantan; acapkali mengajak makan, menonton film kesukaan, jalan-jalan di akhir pekan; aku benar-benar nyaman. Sampai pada waktunya jelas aku menyadari;

Dia hanya (sedang) butuh teman bicara.

Batam, 12 Januari 2019

*Terunggah pula di instagram @abengkriss

Tinggalkan Komentar