Hari untuk ibu

Sudah setengah tahun lebih dan tak pernah terpikir akan separah ini. Lemah, kurus, terbaring tak berdaya. Nyaris di setiap sepertiga malam merintih memudarkan lamunan dan memecah keheningan.

“Nak, tolong pijatkan kaki ibu ini rasanya sakit sekali.” Rintihnya padaku yang tengah asik menatap layar kaca.
“Iya, sebentar.” Jawabku sambil beranjak menghampirinya.

Inikah yang ia rasakan tiga tahun lalu ketika merawatku dalam kondisi yang sama? Terbaring lemah. Tak mampu lagi berdiri di atas kaki sendiri. Oh tuhan.. seketika aku mengingat tuhan.

Ragaku pandai menyandiwarai kenyataan dan berpura-pura dengan mengunggah foto di sosial media yang amat-teramat duniawi. Tapi di dalam sini, jauh di dalam relung kesadaran yang ku acuhkan adanya, terdapat endapan kesedihan dari remah-remah kenyataan yang telah ku telan bulat-bulat. Ia tak mau larut, menumpuk dan semakin menyesakan.

Aku cemburu ketika linimasaku di penuhi mereka yang merayakan hari ini dengan mengunggah foto kebahagian bersama ibu-ibu mereka dengan membubuhi caption se-indah mungkin lalu menyelipkan hashtag #mothersday di antaranya.

Dalam sekat hari dimana senja adalah penyambungnya, aku adalah temaram di antara terang dan gelap. Keabu-abuan yang ironis.

Ibu, bertahanlah.. aku sedang memintal mimpi, menyulam kebahagiaan yang kelak akan kita kenakan bersama. Aku akan merawat dan mendoakanmu dengan caraku sendiri.

Selamat hari ibu..

Batam, 22 Desember 2018

Tinggalkan Komentar