Kopi Hitam mbak Minah (Episode 01)

  Mentari baru saja menyelesaikan tugasnya. Di iringi temaram ia kembali keperaduan dan perlahan menghilang di cakrawala. Ya, kini hari telah gelap. Waktu yang tepat untuk singgah ke kedai. Memesan secangkir kopi hitam pekat dengan sedikit gula. Menceritakan kisah hari ini di buku catatan digital ku sembari menyambangi beranda sosial media.

Mencoba menelaah kolom komentar di kiriman orang – orang. Begitu banyak ku temui penggunaan bahasa yang “kurang pantas”. Kalimat dengan kata kasar, menghina, dan cenderung tidak sopan. Mereka berspekulasi sendiri atas pernyataan seseorang. Miris.. tidak perlu begitu, Jika memang tidak suka cukup tekan tombol unfollow lalu kerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Hmmm.. “Hate speech“, banyak sekali pembenci dan iri dengki di dunia ini. Kata ku dalam hati sambil terus scrolling beranda sosial mediaku. Tak lama mbak minah datang mengantarkan kopi hitam yang ku pesan tadi.

  “Gulanya sedikit kan mbak.” Tanya ku pada mbak minah berusaha meyakinkan kopi yang di antarnya sesuai dengan keinginanku.

  “Iya mas, seperti biasa..” jawab mbak minah dengan suara lembut yang tak akan pernah ku lupakan.

Mbak minah adalah seorang pelayan di kedai langganan tempat biasa aku menyendiri dan menikmati kopi hitam favoritku. Orangnya baik, senyumnya manis dan itulah sebabnya aku memutuskan kedai kopi ini menjadi tempat favoritku. Seperti biasa, duduk berjam-jam memesan segelas kopi dan beberapa snack lalu menulis novel yang tak pernah selesai. Bukan cerita nya yang panjang, melainkan mood ku yang sering berubah dan terkadang lupa bahwa aku sedang menulis sebuah novel.

Terkadang aku pesimis dengan mimpiku menjadi seorang penulis professional. Aku terlalu ambisius dalam mengerjakannya sampai titik dimana godaan hobi yang lain sangat menarik perhatianku dan di saat itulah aku mulai lupa dengan impian yang labil itu.

Imajinasi ku yang tengah mengawang-awang buyar seketika ketika mbak minah tiba-tiba mengejutkan ku.

  “Mas, udah mau tutup nih, masih ada yang mau di pesan nggak?” Tanya mbak minah padaku sambil senyum karena melihat ku terkejut oleh nya.

  “Oh, nggak mbak udah ini aja. Mbak ini bikin aku kaget aja.” Jawab ku dengan tawa kecil dan sedikit malu.

  “Aku minta bill nya saja soalnya sudah mau pulang juga nih.” Ujar ku sambil merogoh saku belakang bermaksud mengambil dompet.

  “Oke sebentar ya mas, aku ambilkan bill nya dulu di kasir.” Jawab mbak minah sambil berlalu pergi.

Mbak minah kembali dengan membawa bill lalu aku membayarnya. Aku mulai mengemas barang- barang ku untuk bergegas pulang karena ternyata malam sudah cukup larut, waktu sudah menunjukkan pukul 12:32 dini hari.

  “Mbak, aku pulang dulu ya..” pamit ku pada mbak minah.

  “Iya mas, hati-hati di jalan.. Makasih ya” sahut mbak minah padaku yang perlahan meninggalkan kedai.

  “Sama-sama..” timpalku sembari melambaikan tangan tanpa menoleh isyarat terima kasih kembali ku untuk mbak minah.

Baru saja aku sampai di parkiran tempat ku memarkirkan motor ku tiba-tiba handphone ku berdering.

  “Ya, hallo?”
“Siapa nih?”
“Apa?!”

** Bersambung **

Tinggalkan Komentar